Archive for the ‘AIDS’ Category

PENDERITA HIV/AIDS DI YOGYAKARTA MENINGKAT TAJAM

Tuesday, March 18th, 2008

JUMLAH angka penderita HIV/AIDS di DI Yogyakarta mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir. Jumlahnya pun meningkat tajam dari 20 penderita di tahun 2002 menjadi 393 orang per September 2007. Mereka yang terinfeksi berada di usia produktif yaitu 15-30 tahun.Secara rinci, disebutkan di tahun 2003 terdapat 31 orang, tahun 2004 meningkat menjadi 139. Berturut-turut di tahun 2005 tercatat 221 dan meningkat lagi menjadi 296 tahun 2006.

“Mereka yang terinfeksi itu sebagian besar akibat perilaku heteroseksual juga akibat penggunaan jarum suntik narkoba secara bergantian,” kata Bondan Agus Suryanto, Kepala Dinas Kesehatan DI Yogyakarta saat diskusi seminar HIV/AIDS Peringatan Hari Perempuan, di Yogyakarta, Selasa (11/3).

Penggunaan jarum suntik injecting drug user (IDU) di kalangan usia muda itu kini yang jadi keprihatinan dan butuh perhatian bersama. Peningkatan angka penderita yang meningkat dari tahun ke tahun tersebut juga terjadi pada kelompok rawan seperti pekerja seks komersial, waria.

“Angka survei di kelompok rawan HIV/AIDS tercatat 5 persen di antaranya terinfeksi,” lanjutnya.

Dinas Kesehatan Provinsi DI Yogyakarta mencatat tingginya usia produktif yang terinfeksi HIV/AIDS itu salah satunya perilaku seks kaum muda di kota pelajar dan mahasiswa tersebut. Apalagi, sebagai kota wisata dan kota budaya, ditengarai perilaku seks kalangan muda cukup longgar.

“Efek negatif pariwisata seperti perilaku seks memang ada. Warga usia muda yang tinggal di Yogyakarta jumlahnya juga cukup besar,” kata Bondan.

Salah satu penyumbang angka penderita yang terdata karena dua hal, pertama kesadaran untuk melakukan pemeriksaan test bertambah. Kedua, total jumlah penderita juga meningkat. Menurut perkiraan, jumlah penderita yang ada diperkirakan jauh lebih kecil daripada penderita riil.

“Kita perkirakan jumlah riil 10 kali lipat penderita yang terdata,” paparnya

Dinas Kesehatan sendiri dalam upaya penanganan HIV/AIDS memang mengintensifkan langkah guna menemukan penderita. Sosialisasi, pendampingan dan perhatian khusus untuk pengobatan digalakan.

Bondan menambahkan, masyarakat dulu mengenal HIV/AIDS sebagai penyakit laki-laki padahal kini perempuan jadi kelompok yang rawan. Kini pihaknya mengkampanyekan pencegahan berbasis gender.

“Ini bukan saja penyakit laki-laki, perempuan juga jadi kelompok rawan,” ucap Bondan.

Enik Maslahah, Koordinator Tim Kampanye Tolak Perda Pelacuran yang turut jadi pembicara menyatakan langkah pendekatan moralistik dengan Perda tak efektif.

Mengutip data nasional dari 10.384 penderita HIV/AIDS di Indonesia dengan 6000 penderita yang belum mengalami gejala berasal dari kelompok usia produktif.

Enik menjelaskan perilaku diskriminatif masyarakat yang menyebutkan HIV/AIDS sebagai penyakit kutukan, penyakit pekerja seks komersial dan kelompok waria masih cukup kuat melekat.

Enik memberikan saran penyadaran masyarakat soal pemahaman kesehatan reproduksi dan pengertian soal HIV/AIDS yang benar perlu terus dilakukan. “Aneka macam perilaku masyarakat, hanya sedikit data menyebut berasal dari kalangan pekerja seks komersial. Pendekatan moral tak bisa karena ada problem kultural dan struktural,” katanya. Much Fatchurochman

HIV/AIDS cases skyrocket in Yogyakarta: Health office

Monday, March 17th, 2008

The Jakarta Post, Wed 12, 2008

The number of people living with HIV/AIDS in Yogyakarta jumped from 20 in 2002 to 393 in September last year, provincial health office head Bondan Agus Suryanto said Tuesday.

Bondan attributed the sharp increase in HIV/AIDS infections to more people having unprotected sex outside of monogamous relationships and the sharing of needles among young drug users.

“Most of those infected by the deadly virus belong to the productive age group of 15 to 30 years. Most of them were infected through heterosexual sex and the sharing of syringes,” Bondan said during a break at a seminar on HIV/AIDS.

He warned that HIV/AIDS infections in the city had reached alarming levels, and immediate action was needed to halt the trend.

He said about 5 percent of the infections involved prostitutes, transvestites and others who engaged in high-risk sexual activities.

He said Yogyakarta’s position as both a tourism destination and the site of numerous universities resulted in their being more high-risk sexual activities in the city.

“As a tourism city, one of its negative impacts is the rise in loose sexual behavior. At the same time a lot of young people live in Yogyakarta.”

He also warned the official figure for HIV/AIDS infections was likely far lower than the actual number. “The real number could be 10 times that.”

The coordinator of a group campaigning against regional rules outlawing red-light district, Enik Maslalah, said the moral approach to fighting HIV/AIDS had proven ineffective.

“Prevention efforts should not deal mainly with the moral approach, but with cultural and structural problems,” Enik said.

Robert Sihombing, an HIV/AIDS activist with the Jayapura Support Group in Papua, said Tuesday the application of the OraQuick advanced HIV antibody test for use with oral fluids had proven to be ineffective, because the results had to be confirmed using standard blood tests.

“If the OraQuick test results have to be confirmed with the existing blood test, what is the use of the tests?” Sihombing asked.

He said since blood tests were more effective for determining HIV/AIDS status, the OraQuick kits were not needed in Papua.

Sihombing made the remarks in response to the arrival in Jayapura of at least 30,000 OraQuick test kits, whose expiration dates are in June, from the Health Ministry in Jakarta.

The kits are still being stored in warehouses by the Papuan provincial health office because of a lack of funds for their distribution.

“Even if there was money for their distribution, many of the kits will be useless, as it is impossible to distribute the 30,000 kits in Papua within two months,” provincial health office head Bagus Sukaswara said.

He said the introduction of the OraQuick test kits would be a waste of funds.

“Why should we be given new test kits? Why don’t we just intensify the old system, which has not been properly utilized?” Bagus said.

Source http://www.thejakartapost.com/news/2008/03/11/hivaids-cases-skyrocket-yogyakarta-health-office.html

Penanggulangan HIV/AIDS harus Berperspektif Perempuan dan HAM

Monday, March 17th, 2008

Republika Online, 11 Maret 2008Yogyakarta-RoL– Pemerintah dalam upaya menanggulangi penyebaran virus HIV yang menyebabkan penyakit AIDS (HIV/AIDS) hendaknya berperspektif perempuan dan HAM sehingga tidak terjebak pada persoalan medis semata.

“Sedangkan gerakan HAM diharapkan berperspektif perempuan dan HIV/AIDS,” kata Koordinator Jaringan Gerakan HIV/AIDS Rahayu Aji Asmoro pada diskusi Membangun Sinergisitas Gerakan HIV/AIDS di Yogyakarta, Selasa.

Selama ini yang menjadi perhatian pemerintah cenderung persoalan medis saja, sementara gerakan HAM hanya fokus pada isu-isu besar seperti kehilangan orang dan ‘pembantaian massal’ oleh pihak tertentu. “Persoalan kompleks HIV/AIDS kurang mendapat perhatian,” kata dia.

Selain pemerintah dan gerakan HAM, gerakan perempuan juga hendaknya tidak membiarkan proses keterpaparan virus (HIV) pada kalangannya sendiri.

“Mereka diharapkan menyadari bahwa salah satu hak perempuan yang harus ditegakkan adalah aman dari HIV/AIDS,” katanya.

Menyinggung penanggulangan HIV/AIDS di Yogyakarta, ia mengatakan sampai saat ini belum ada kebijakan khusus yang secara efektif mampu memutus mata rantai penularannya pada pekerja seks.

“Mereka belum dilindungi dengan pemberian informasi memadai tentang HIV/AIDS atau mendapat layanan kesehatan yang baik, tetapi justru dipandang sebagai ‘residu’ yang harus dibersihkan,” katanya.

Konsekuensinya, kata dia, razia menjadi tindakan represif yang dianggap tepat oleh pemerintah daerah. Razia tidak jarang disertai dengan kekerasan dari aparat, seperti menyeret paksa dan bahkan dilecehkan.

“Padahal cara ini merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM yang sering dialami para pekerja seks,” katanya. antara/abi

Sumber: http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=326579&kat_id=23

Perkembangan Epidemi HIV dan AIDS Memprihatinkan

Monday, March 17th, 2008

Kompas, 12 Maret 2008

JAKARTA, RABU-Perkembangan epidemi HIV dan AIDS di Indonesia sangat memprihatinkan. Jika pada tahun 2004 kasus AIDS ditemukan di 16 provinsi, maka pada tahun 2007 telah ditemukan di 32 provinsi. Dengan demikian, AIDS telah terjadi hampir di seluruh Indonesia.

Demikian disampaikan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta dalam sambutan pembukaan Lokakarya Nasional Perencanaan dan Penganggaran Penanggulangan HIV/AIDS di kantor Bappenas, Jakarta, Rabu, (12/3).

“Bahkan di Papua, prevalensi AIDS sangat tinggi dan telah terjadi pada populasi umum. Prevalensi ini dikhawatirkan akan terus meningkat karena kasus HIV juga terus meningkat. Walaupun saat iniada sekitar 6000 kasus HIV, namun diperkirakan populasi yang rawan tertular HIV sebanyak 193.000 orang,” ungkap Paskah.

Menurut Paskah HIV dan AIDS dapat menyebabkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) turun dan mempunyai dampak terhadap ekonomi dan kemiskinan. Untuk itu, ia berpendapat perlu adanya koordinasi dalam menanggani masalah ini secara bersama-sama. “Koordinasi menjadi kata kunci yang sangat penting bagi penanggulangan HIV/AIDS, tidak hanya pada tingkat perencanaan, tetapi juga penganggaran, implementasi dan tata laksana kasus, baik di pusat dan daerah,” katanya.

Selain masalah koordinasi, masalah lain dalam penanggulangan HIV/AIDS adalah soal pendanaan. Sampai saat ini, lanjut Paskah, pendanaan masih tergantung dari bantuan luar negeri yakni sekitar 70% dari dana penanggulangan berasal dari luar negeri dan itu mempunyai dampak kurang baik. ” Kita menempatkan diri pada posisi ketergantungan pada donor tinggi. Kita tahu bahwa bantuan ini dapat berhenti sewaktu-waktu karena berbagai sebab,” katanya.

Oleh karena itu, Paskah berpendapat bahwa sudah saatnya Indonesia mulai mengurangi ketergantungan tersebut dengan meningkatkan dana dari dalam negeri termasuk meningkatkan peran masyarakat dan dunia usaha. (DIV)

Sumber: http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.03.12.13093656&channel=1&mn=20&idx=97

Dinkes Akan Deteksi HIV/AIDS Dengan Oral Quick

Monday, March 10th, 2008

Jayapura- Cendrawasih Pos (8/3). Untuk mendeteksi seseorang apakah tertular penyakit HIV/AIDS atautidak, yang selama ini tesnya melalui darah sehingga prosesnya lebih sulit, makakedepan akan diperkenalkan sebuah alat yang disebut oral quick. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua dr Bagus Sukaswara menjelaskan, Oral Quick ini adalah
suatu tes yang menggunakan sistem immunologis. “Alat ini bisa dipakai untuk
memeriksa HIV/AIDS dengan menggunakan darah, dengan serum , dengan plasma dan
bisa juga dengan air liur,”jelasnya.
Untuk pemeriksaan dengan air liur caranya yaitu dengan memasukkan alat itu
kedalam mulut tepatnya ditaruh diantara gigi dan pipi, kemudian alat itu
dicelupkan kedalam reagennya. “Setelah ditunggu diantara 20-40 menit, maka
hasilnya sudah bisa ketahuan. Ini lebih praktis, lebih mudah dioperasionalkan
dan lebih tahan terhadap perubahan”ujarnya.
Dikatakan, alat ini belum distandarisasi menjadi screening test. Meski begitu,
pihaknya akan melakukan standarisasi untuk membandingkan apakah hasilnya akan
sama screening tes yang lain. ”Di mumult virus itu kan necil, tetapi mengapa
bisa terdeteksi. Sebab alat itu tidak mendeteksi virus, namun ia mendeteksi apa
yang disebut immuoglobin. Ini tidak menuar sehingga bagi pemeriksanya jauh lebih
aman.”katanya.
Ditegaskan, upaya untuk memeriksa HIV/AIDS dengan alat ini di Papua bukan untuk
coba-coba. ”Kami akan lakukan pemeriksaan iru bersamaan dengan menggunakan
screening tes yang lain. Ini dilakukan di Papua karena kecenderungan untuk
menjadi positif lebih banyak, dimana saat ini Papua masih menempati posisi
HIV/AIDS yang cukup tinggi. Jika dibikin di Kalimantan Tengah kan tidak mungkin,
nanti di sana hasilnya negatif-negatif terus,”tegasnya.
Lanjutnya, pengujian itu tidak hanya yang positif, yang negatif juga akan diuji.
Dimana pemeriksaan tersebut mestinya dimulai sejak Januari lalu, namun karena
anggaran DIPA-nya Depkes belum sepenuhnya keluar , sehingga pelaksanaan
pemerksaan menjadi mundur. (mud)

MEMERANGI AIDS

Saturday, March 8th, 2008

KAJEN BISNIS INDONESIA (3/3) - Ditemukan empat sampel darah warga Kabupaten Pekalongan  yang reaktif virus Human Immuno-defficiency Virus (HIV). Selain itu,  ditemukan pula satu kantong darah yang mengarah reaktif penyakit  tersebut. 

Kabid Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas  Kesehatan Kabupaten Pekalongan, dokter Hasyim Purwadi, mengatakan, dari  empat sampel darah yang diketahui reaktif HIV itu, satu pemilik sampel darah  itu sudah melakukan konsultasi kesehatan secara suka rela (voluntary  consulting test/VCT).

(more…)

HARM REDUCTION, OPORTUNISTIS ATAU PRAGMATIS

Saturday, March 8th, 2008

ADA suatu masa kita pernah percaya bahwa pencegahan dan  penghentian pecandu atau abstain dari penyalahgunaan narkoba adalah cara  paling efektif untuk menghadapi masalah narkoba. Tetapi kini, banyak yang  mulai tidak yakin.

Ernst C Buning, seorang peneliti Belanda, sebagaimana  dikutip International Journal of Addiction (1991) menyatakan bahwa  pencegahan narkoba tidak penting. Mencegah dampak buruk yang ditimbulkan  narkoba terhadap kesehatan masyarakat jauh lebih penting.

(more…)

PARA ODHA USIA PRODUKTIF

Saturday, March 8th, 2008

JAKARTA- Jawa Pos (6/3) Penyebaran dan  penularan HIV/AIDS di DKI Jakarta makin memprihatinkan saja. Data Komisi Penanggulangan AIDS Nasional menyebut, Jakarta termasuk kota dengan kasus  HIV/AIDS terbanyak. Hingga akhir September 2007, tercatat ada 2.849 orang  yang positif menderita penyakit mematikan tersebut.

 

Itu berarti, jumlah  penderita HIV/AIDS di DKI Jakarta mencapai 27,43 persen dari total 10.384  kasus pada skala nasional. Ironisnya, 54,05 persen penderita berada pada  usia produktif yakni 20-30 tahun disusul usia 30-39 tahun dan usia 40-49 tahun.

(more…)

WAJIB PAKAI MASKER, DILARANG PANGKU JENAZAH

Saturday, March 8th, 2008

SURABAYA-Jawa Pos (6/3) - Memandikan  jenazah yang terkena penyakit menular seperti HIV/AIDS tidak bisa  sembarangan. Ada teknik khusus yang harus dipatuhi para mudin. Salah satunya, wajib mengenakan universal precaution (UP). Yakni, standar  perlengkapan kesehatan yang terdiri atas penutup kepala, masker, gogle  (penutup hidung), sarung tangan, pakaian steril, dan sepatu bot.

 

“Cara  memandikannya tetap sama. Hanya, jenazah penderita HIV/AIDS tak boleh  dipangku seperti ketika memandikan jenazah yang terkena penyakit lain,”  jelas dr Eddy Suyanto SpF SH ketika menjadi pembicara pelatihan para mudin  se-Surabaya di kantor PW NU kemarin (5/3).

(more…)

METADON BUKAN SOLUSI UTAMA

Saturday, March 8th, 2008
Kurang lebih ada  1.700 pengguna heroin, sekarang aktif mengikuti terapi rumatan metadon di  sejumlah rumah sakit. Mereka rutin setiap hari minum metadon untuk melepas  ketergantungan dari narkotika.

Lalu, apakah metadon  yang digunakan dalam terapi ini? Metadon sendiri adalah opiat atau bahan  yang terkandung dalam opium sintesis, yang termasuk golongan II narkotika.  Metadon diproduksi dalam bentuk cairan, tablet, dan bubuk. Metadon yang  digunakan untuk pengobatan ini, berbentuk cairan yang diminum. (more…)