Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 472

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 487

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 494

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 530

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/cache.php on line 103

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/theme.php on line 623
slametriyadi.com » Blog Archive » Libatkan Pemda dalam Penyediaan Obat ARV

Libatkan Pemda dalam Penyediaan Obat ARV

24 April 2008
Jakarta, Kompas - Depkes berencana mendelegasikan pengadaan obat untuk penderita HIV/AIDS kepada pemerintah provinsi setempat. Langkah ini perlu ditempuh agar krisis ketersediaan obat antiretroviral lini pertama, khususnya efavirenz, di sejumlah rumah sakit beberapa pekan terakhir tidak terulang.

Keterlibatan pemda akan difokuskan pada pengadaan persediaan cadangan (buffer stock) sehingga akses rumah sakit terhadap obat itu lebih mudah dan cepat.

”Dengan keterlibatan pemda, diharapkan jalur distribusi lebih pendek,” kata Kepala Subdirektorat AIDS dan Penyakit Menular Seksual Depkes Sigit Priohutomo, Rabu (23/4) di Jakarta. ”Pelaksanaannya tergantung kesiapan setiap provinsi,” ujarnya.

Sejauh ini baru Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang telah menyatakan siap untuk melakukan pengadaan obat antiretroviral (ARV) di daerahnya. Kesiapan ini terkait tempat penyimpanan, distribusi obat ARV ke semua rumah sakit di provinsi bersangkutan, dan fasilitas lain terkait dengan pengadaan obat itu.

Agar pengadaan obat tersebut tidak terhambat birokrasi di tingkat pemerintah provinsi, Depkes akan memantau distribusi obat itu hingga ke rumah sakit.

Krisis ketersediaan obat

Seiring dengan meningkatnya jumlah orang hidup dengan HIV/ AIDS (ODHA), Depkes memprediksi krisis ketersediaan obat ARV akan kembali terjadi.

Untuk mengantisipasinya, ”Kami telah mengusulkan penambahan anggaran pengadaan obat ARV,” kata Sigit.

Krisis ketersediaan obat antiretroviral lini pertama, khususnya efavirenz, sebagai terapi HIV/AIDS di sejumlah rumah sakit beberapa pekan terakhir kini telah tertanggulangi. Depkes sudah mendistribusikan obat itu ke berbagai rumah sakit.

”Ketersediaan obat ARV telah normal lagi. Semua obat ARV, khususnya efavirenz, sudah didistribusikan ke semua daerah. Ketersediaan obat diperkirakan mencukupi hingga tujuh bulan ke depan,” kata Sigit.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah rumah sakit mengalami krisis ketersediaan obat efavirenz karena pasokan dari Depkes tersendat. Kondisi ini menghambat akses banyak ODHA dalam memperoleh obat tersebut sehingga terancam putus obat.

Kaum ODHA saat ini umumnya menggunakan obat antiretroviral lini pertama—terdiri dari lima jenis, yaitu zidovudine, lamivudine, nevirapine, stavudine, dan efavirenz. Kini sekitar 60 persen dari jumlah ODHA mengonsumsi efavirenz, terutama pengguna narkoba dan pengidap HIV yang alergi terhadap jenis obat antiretroviral lain.
Untuk menghindari terulangnya kembali krisis ketersediaan obat, lanjut Sigit, pihaknya akan mengintensifkan pemantauan distribusi obat dari pemerintah pusat ke rumah-rumah sakit. ”Jadi bisa segera diketahui jika ada rumah sakit yang persediaan obatnya hampir habis. Karena efavirenz masih diimpor, proses penyediaan obat jadi lebih lama,” ujarnya. (EVY)

Sumber: Kompas

Leave a Reply