Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 472

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 487

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 494

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 530

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/cache.php on line 103

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/theme.php on line 623
slametriyadi.com » Blog Archive » Golput dan Gerakan Perempuan

Golput dan Gerakan Perempuan

  • Oleh Munawir Aziz

DI tengah gelegar persiapan Pilgub Jateng, kaum perempuan seakan berada di lorong kesunyian. Betapa tidak. Calon perempuan yang dinanti-nantikan muncul dalam perhelatan akbar ini, tak kunjung mendeklarasikan diri. 

Yang terdengar di perbincangan umum dan dominasi berita media, hanyalah wajah tokoh laki-laki yang sibuk menggalang kekuatan. Perempuan berada di lorong gelap dari medan ingar-bingar pilgub yang rencananya digelar 22 Juni mendatang.

Nah, kalau perempuan belum mendapatkan calon yang sesuai dengan hati nurani, bagaimanakah menyalurkan aspirasi agar sesuai dengan standar yang diinginkan?

Akan tetapi, belakangan ini, santer terdengar gerakan golput yang merebak di berbagai daerah. Gerakan ini timbul, karena kekecewaan terhadap beberapa calon gubernur-wakil gubernur yang visi-misinya kurang memenuhi tuntutan masyarakat. Bagaimana perempuan menyikapi  kampanye golput oleh beberapa kelompok ? Langkah apa yang harus ditempuh agar tidak berada dalam jurang kerugian?

Tantangan Golput

Pilgub Jateng 2008 menjadi agenda besar di tengah sengkarut politik tanah air. Drama politik yang dipentaskan di panggung nasional, tentu akan membawa dampak pada peta politik Jateng. Di ”republik poco-poco”, peta politik dapat berubah drastis setiap detik. Kampanye golput yang merebak membuat pelaksanaan pilgub seakan ”berbeda”. Akibatnya, penyelenggaran pilgub yang didukung dana Rp 600 miliar ini menjadi carut-marut. Sampai-sampai, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng menggandeng Tukul Arwana sebagai bintang iklan sosialisasi anti-golput dan menyukeskan agenda pilgub.

Tukul, pelawak dan host acara ”Empat Mata” yang asli Semarang, diharapkan mampu mengajak warga Jateng agar mengapresiasi pilgub dengan menggunakan hak pilihnya. Seakan KPU merasa waswas dengan gelombang golput yang ingin mengempaskan ”kenduri politik” bernama pilgub.
Sebenarnya pilihan politik warga ketika pesta demokrasi bersumber dari nurani individu, maka tak dapat dipaksakan. Keputusan mendukung salah satu calon atau tidak mengaktualisasikan hak politik dalam pemilu, menjadi hak individu. Hanya saja, keputusan bergabung dalam golput, tentu harus dipertimbangkan secara mendalam. Apakah kebanggaan menjadi golput akan membawa kontribusi bagi perjalanan kehidupan dan politik, atau hanya menambah sengkarut masalah?

Pilihan dalam pilgub tentu berkaitan dengan analisis track record dan integritas calon gubernur. Ataukah pilihan hanya menjadi alternatif sakit hati (dan mungkin kejengkelan), atas peta politik di Jateng? Menjadi golput boleh-boleh saja, akan tetapi menjadi tidak etis apabila mengajak orang lain untuk bergabung dalam pusaran golput, dan menjadi kekuatan politik tersendiri.

Atraksi Politik

Pesta demokrasi di panggung politik Jateng menjadi dramatis, karena menyisakan setumpuk masalah dalam kehidupan warga. Kaum perempuan di Jateng membutuhkan pemimpin baru yang mampu menerangi gelapnya lorong kehidupan. Tampilnya Bambang Sadono-Muhammad Adnan, Sukawi Sutarip-Sudharto, M Tamzil, Bibit Waluyo, Murdoko, dan cagub-cawagub lain harus berani berpihak pada kepentingan perempuan.

Calon gubernur hendaknya mampu merancang strategic planning ketahanan pangan dan penguatan ekonomi berbasis masyarakat, agar tampuk pemerintahan yang nanti dipegang, menjadi kokoh. Selain itu, persoalan perempuan juga harus menjadi target utama yang perlu menjadi fokus perhatian. Cagub-cawagub hendaknya memahami masalah perempuan dan memberikan solusi kongkret yang menyejahterakan kaum hawa. Untuk itu, cagub-cawagub yang maju dalam pilgub Jateng, mutlak mengkaji perbaikan ekonomi dan pemberdayaan perempuan dalam fase pertama.

Besar kecilnya golput, selain sosialisasi oleh KPU, juga ditentukan oleh integritas pribadi cagub-cawagub. Kapabilitas, track record, metode kepemimpinan, dan informasi tentang calon pemimpin juga menentukan pilihan warga. Mampukah calon gubernur-calon wakil gubernur memancarkan kharisma dan integritas pribadi kepada masyarakat. Jangan lupa, warga Jateng sebagian besar sudah melek politik.

Momentum pilkades, pilkada, dan pemilu, menempa diri dan memberi wawasan demokrasi masyarakat. Maka, profesionalisme pemimpin menjadi titik masuk untuk menilai kapabilitas pribadi. Profesionalisme dalam analisis Franz Magnis Suseno (1999), akan tercapai dengan tingkat integritas yang memadai. Tanpa integritas, profesionalisme tak akan memancar dari pribadi pemimpin.
Pada titik inilah, perempuan hendaknya memiliki sikap politik yang kokoh. Pertama, perempuan harus aktif dalam persiapan pilgub. Mencalonkan diri (karena memang belum terlambat) atau menjadi tim sukses kelompok tertentu. Kedua, perempuan harus berani mendesak cagub-cawagub untuk merumuskan master plan pemberdayaan kaum hawa.

Ketiga, perempuan hendaknya aktif menyosialisasikan pilgub di lingkungannya. Biasanya mereka lebih pandai mengajak kaumnya daripada laki-laki agar pilgub berjalan dengan sukses. Menjadi bagian dari golput merupakan pilihan politik yang paling akhir. Bagaimana pun kita menginginkan agar pilgub berjalan sukses. Kasus carut-marut pilgub di Sulawesi Selatan (Sulsel) dan daerah lain semoga tak terjadi di Jateng.

Warga Jateng merindukan pemimpin baru yang mampu menyandingkan kesejahteraan di panggung kehidupan dan memberdayaan perempuan. (37)

–– Munawir Aziz, wakil direktur Lembaga Kajian al-Hikmah Pati.

Leave a Reply