Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 472

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 487

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 494

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 530

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/cache.php on line 103

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/theme.php on line 623
slametriyadi.com » Blog Archive » PENDERITA HIV/AIDS DI YOGYAKARTA MENINGKAT TAJAM

PENDERITA HIV/AIDS DI YOGYAKARTA MENINGKAT TAJAM

JUMLAH angka penderita HIV/AIDS di DI Yogyakarta mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir. Jumlahnya pun meningkat tajam dari 20 penderita di tahun 2002 menjadi 393 orang per September 2007. Mereka yang terinfeksi berada di usia produktif yaitu 15-30 tahun.Secara rinci, disebutkan di tahun 2003 terdapat 31 orang, tahun 2004 meningkat menjadi 139. Berturut-turut di tahun 2005 tercatat 221 dan meningkat lagi menjadi 296 tahun 2006.

“Mereka yang terinfeksi itu sebagian besar akibat perilaku heteroseksual juga akibat penggunaan jarum suntik narkoba secara bergantian,” kata Bondan Agus Suryanto, Kepala Dinas Kesehatan DI Yogyakarta saat diskusi seminar HIV/AIDS Peringatan Hari Perempuan, di Yogyakarta, Selasa (11/3).

Penggunaan jarum suntik injecting drug user (IDU) di kalangan usia muda itu kini yang jadi keprihatinan dan butuh perhatian bersama. Peningkatan angka penderita yang meningkat dari tahun ke tahun tersebut juga terjadi pada kelompok rawan seperti pekerja seks komersial, waria.

“Angka survei di kelompok rawan HIV/AIDS tercatat 5 persen di antaranya terinfeksi,” lanjutnya.

Dinas Kesehatan Provinsi DI Yogyakarta mencatat tingginya usia produktif yang terinfeksi HIV/AIDS itu salah satunya perilaku seks kaum muda di kota pelajar dan mahasiswa tersebut. Apalagi, sebagai kota wisata dan kota budaya, ditengarai perilaku seks kalangan muda cukup longgar.

“Efek negatif pariwisata seperti perilaku seks memang ada. Warga usia muda yang tinggal di Yogyakarta jumlahnya juga cukup besar,” kata Bondan.

Salah satu penyumbang angka penderita yang terdata karena dua hal, pertama kesadaran untuk melakukan pemeriksaan test bertambah. Kedua, total jumlah penderita juga meningkat. Menurut perkiraan, jumlah penderita yang ada diperkirakan jauh lebih kecil daripada penderita riil.

“Kita perkirakan jumlah riil 10 kali lipat penderita yang terdata,” paparnya

Dinas Kesehatan sendiri dalam upaya penanganan HIV/AIDS memang mengintensifkan langkah guna menemukan penderita. Sosialisasi, pendampingan dan perhatian khusus untuk pengobatan digalakan.

Bondan menambahkan, masyarakat dulu mengenal HIV/AIDS sebagai penyakit laki-laki padahal kini perempuan jadi kelompok yang rawan. Kini pihaknya mengkampanyekan pencegahan berbasis gender.

“Ini bukan saja penyakit laki-laki, perempuan juga jadi kelompok rawan,” ucap Bondan.

Enik Maslahah, Koordinator Tim Kampanye Tolak Perda Pelacuran yang turut jadi pembicara menyatakan langkah pendekatan moralistik dengan Perda tak efektif.

Mengutip data nasional dari 10.384 penderita HIV/AIDS di Indonesia dengan 6000 penderita yang belum mengalami gejala berasal dari kelompok usia produktif.

Enik menjelaskan perilaku diskriminatif masyarakat yang menyebutkan HIV/AIDS sebagai penyakit kutukan, penyakit pekerja seks komersial dan kelompok waria masih cukup kuat melekat.

Enik memberikan saran penyadaran masyarakat soal pemahaman kesehatan reproduksi dan pengertian soal HIV/AIDS yang benar perlu terus dilakukan. “Aneka macam perilaku masyarakat, hanya sedikit data menyebut berasal dari kalangan pekerja seks komersial. Pendekatan moral tak bisa karena ada problem kultural dan struktural,” katanya. Much Fatchurochman

Leave a Reply