Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 472

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 487

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 494

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 530

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/cache.php on line 103

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/theme.php on line 623
slametriyadi.com » Blog Archive » Hari Gini Dagang Kapur dan Sirih?

Hari Gini Dagang Kapur dan Sirih?

Senin, 17 Maret 2008 | 15:16 WIB

Oleh Defri Werdiono

Jarum jam menunjuk lepas tengah malam, tetapi Mbah Asman yang berusia lebih dari 70 tahun tampak masih sibuk menata dagangan. Gerakan tangannya terlihat pelan, tentu bukan hendak menirukan kelembutan gerak tari bedoyo, tari ritual Keraton yang menjadi kegemarannya.

Akan tetapi, usia yang mulai uzur pelan-pelan telah menggerogoti kelincahannya untuk mengemas dagangan sekar gantenciri khas dagangan perayaan Sekatenyang sudah puluhan tahun ia tekuni. Beralas koran usang untuk menahan dinginnya lantai yang basah oleh hujan, tangan perempuan tua ini terus saja bergerak.

Selembar daun sirih yang mulai layu diambilnya dari dalam kantong plastik transparan yang sedikit kusam. Daun sirih itu lantas diputar, membentuk sebuah contong kecil. Agar lebih jelas, beberapa kali wajahnya menunduk, mendekatkan penglihatannya yang mulai terganggu. Sejumput tembakau berkualitas sedang ia ambil, lalu dijejalkan ke sirih. Tak lupa, ditambahkannya secuil gambir dan sedikit injet (kapur).

Terakhirsupaya paketan kecil itu juga berguna bagi lelaki ditancapkan sebiji kembang kantil dengan ujung gagang mengarah ke langit. Monggo, bade tumbas pinten (mau beli berapa)? sapanya parau, Jumat (14/3) dini hari, atau sesaat setelah dua gamelan keraton diarak dan ditempatkan di depan Masjid Gede.

Bersama lebih dari 20 pedagang lainnya, ia ikut meramaikan keluarnya dua magnet daya tarik Sekaten, yaitu gamelan Kiai Guntur Madu dan Nogowilogo, yang dibunyikan sepekan ke depan. Malam itu, Mbah Asman memilih menyendiri di dekat pintu serambi masjid.

Nenek yang datang dari Palbapang, Bantul, dengan naik bus kota ini enggan bergabung dengan rekan lainnya yang bergerombol dekat gamelan. Wonten mriki mawon, mangke lak nggih wonten sing tumbas. Nek pancen rejekine (di sini saja, nanti juga ada yang beli. Kalau memang rezekinya), ucapnya.

Berdagang kapur sirih atau sekar ganten kini memang tidak seperti dulu, meski keberadaannya menjadi bagian dari perayaan Sekaten. Puluhan tahun lalu, saat malam keluar gongso, seorang pedagang bisa meraup keuntungan yang lumayan besar.Saat ini sebaliknya.

Bagi Mbah Asman, misalnya, hingga sekitar pukul 12.30 baru ada lima sekar ganten yang terjual, dengan harga yang ditawarkan Rp 750 per buah. Jumlah ini jauh lebih sedikit dibanding era 1970 hingga 1980-an yang mencapai 20-30 buah. Pedagang lainnya, Mbah Hadi Suharto, baru laku satu buah seharga Rp 500, untungnya ada wisatawanasing yang menyodorkan uang Rp 4.000, yang lalu digantikannya dengan enam buah sekar ganten. Mengapa kini sekar ganten tak selaku dulu? Penyebabnya sederhana, saat ini jarang ada orang, terutama perempuan yang mau nginang (makan sirih).

Snack tradisional ini telah digeser oleh makanan modern yang jauh lebih enak. Bahkan, bisa saja anak muda yang tak mengenal kemashyuran sekar ganten ini tentu akan mencibir, Hari gini jual kapur dan sirih. Tentu anak muda akan kerepotan dengan reaksi makan kapur dan sirih yang menimbulkan gigi dan ludah merah layaknya darah.

Sementara itu, jumlah penikmat kapur sirih sudah banyak yang meninggal atau sudah jompo, tak bisa lagi keluar rumah. Maka, berdagang kapur sirih di arena Sekaten yang umumnya dilakukan oleh wanita uzur, ibarat menggantang asap, apalagi masyarakat yang percaya sekar ganten sebagai media berdoa semakin sedikit.

Tak heran, ketika gamelan ditabuh, seperti tahun lalu, hanya beberapa orang tua perempuan saja yang kemudian menyirih, sedangkan beberapa lelaki langsung menancapkan si kantil ke telinga. Untungnya, bagi mereka penghasilan bukanlah yang utama. Mbah Asman, misalnya, sengaja meneruskan apa yang dilakukan kedua orangtuanya lantaran ingin ngalap berkah semata. Rugi baginya tidak menjadi persoalan.

Semangat dan keyakinan di hati mengalahkan segalanya. Padahal, untuk mendapatkan barang-barang ini mereka harus membeli dari pasar. Satu ons tembakau dibeli Rp 3.000, demikian pula kantil seharga Rp 400 per biji.Sementara itu, sirih diperoleh dari kampung seharga Rp 5.000 per kilogram. Nek mboten telas nggih dimaem piyambak.

Wong kulo nggih doyan (kalau tidak habis ya dimakan sendiri. Saya juga doyan), ujar Mbah Hadi Suharto sambil terkekeh. Sirih dan kapur beserta legendanya hanyalah bayang-bayang sejarah yang kian memudar.

Leave a Reply