Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 472

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 487

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 494

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 530

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/cache.php on line 103

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/theme.php on line 623
slametriyadi.com » Blog Archive » Nurbaiti Bertahan Membuat Kemplang

Nurbaiti Bertahan Membuat Kemplang

 

WA D / Kompas Images
Nurbaiti

Senin, 17 Maret 2008 | 03:54 WIBPerajin kemplang badak di Palembang akhir-akhir ini jumlahnya semakin berkurang, bukan hanya karena proses pembuatannya yang merepotkan, tetapi juga keuntungannya yang semakin tipis. Salah satu perajin kemplang badak yang masih bertahan adalah Nurbaiti (54) atau akrab disapa Mak Beti yang tinggal di Lorong Pedatuan Laut, kawasan 12 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II, Palembang.

Rumah Mak Beti adalah sebuah rumah panggung di pinggir Sungai Musi. Dari rumahnya yang sekaligus tempat membuat kemplang badak terlihat jelas Jembatan Ampera dan lalu lalang perahu di Sungai Musi.

Mak Beti meneruskan bisnis pembuatan kemplang yang dirintis orangtuanya sejak tahun 1950-an.

Bisnis kemplang mulai dikelola sendiri oleh Mak Beti pada tahun 1982. Sejumlah adiknya juga memiliki bisnis pembuatan kemplang di rumah masing-masing.

Menurut Mak Beti, nama kemplang badak berasal dari bentuk adonan kemplang tersebut yang besarnya bisa seukuran bantal. Di masa lalu, kemplang badak lebih dikenal dengan sebutan lidah badak karena bentuknya agak lonjong seperti lidah.

”Adonan untuk membuat kemplang goreng dan kemplang bakar sama saja, yang membedakan adalah proses selanjutnya,” kata Mak Beti.

Ketika harga bahan baku meroket, bisnis kemplang Mak Beti juga ikut goyah. Untuk menyiasatinya, Mak Beti memperkecil ukuran kemplang badak dan mengurangi jumlah kemplang dalam setiap kemasan.

”Dulu sebungkus diisi 25 keping kemplang, sekarang cuma diisi 10 keping karena harga bahan baku melonjak. Tapi yang penting kualitas dan rasa kemplang tetap dipertahankan,” kata Mak Beti.

Mak Beti mengaku hanya membuat kemplang goreng jika ada pesanan. Alasannya, kemplang goreng tidak bisa disimpan terlalu lama karena rasanya berubah. Permintaan kemplang goreng meningkat hanya pada saat Lebaran.

Persoalan yang dihadapi Mak Beti serupa dengan persoalan usaha kecil lainnya, yaitu kekurangan modal. Mak Beti beberapa kali mengajukan permohonan kredit ke bank, namun belum berhasil. Dia menunjukkan sebuah proposal permohonan kredit ke bank yang sudah lusuh.

Alat transportasi, yaitu mobil, yang tidak dimiliki Mak Beti juga menyebabkan pemasaran kemplang Mak Beti tergantung pembeli.

Menurut Mak Beti, kebanyakan kemplang buatannya dibeli oleh toko-toko di seluruh Palembang. Sejumlah toko memasarkan lagi kemplang Mak Beti ke berbagai kota di Jawa. (Wisnu Aji Dewabrata)

Leave a Reply