Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 472

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 487

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 494

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 530

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/cache.php on line 103

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/theme.php on line 623
slametriyadi.com » Blog Archive » Perempuan dalam Dunia Multipolar

Perempuan dalam Dunia Multipolar

Senin, 17 Maret 2008 | 07:55 WIB

Ninuk M Pambudy & Maria Hartiningsih

Pernahkah merasa bersalah kepada anak-anak? Adakah langit-langit kaca? Mengapa tidak mau dipromosikan? Pertanyaan-pertanyaan itu masih menghinggapi perempuan bekerja sampai saat ini.

Desi, ibu dua anak dan seorang profesional di Jakarta, mengatakan, sepulang dari bekerja yang kadang baru pukul 23.00 tiba di rumah, kerap merasa bersalah tidak dapat menemani dua putrinya, dari petang hingga menjelang mereka tidur. Setiba di rumah, dua anak itu sudah tertidur, kadang ditemani ayah mereka.

”Pernahkah ada rasa bersalah?” tanya Desi kepada Executive Partner Indonesia Resource Lead Accenture Neneng Goenadi, konsultan manajemen dan teknologi Accenture Indonesia, dalam acara internal perusahaan konsultasi itu memperingati hari Perempuan Internasional di Jakarta, Selasa (11/3).

Pertanyaan lain, adakah waktu untuk diri sendiri bila seorang perempuan bekerja sudah harus cermat membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Silvy yang seperti Desi juga bekerja di Accenture bertanya, bagaimana membagi membangun relasi dengan anak-anak supaya tidak ada keluhan dan kritik dari mereka karena ibunya sibuk di tempat kerja.

Selain Neneng, ada Presiden Direktur D-Net Sylvia Sumarlin sebagai nara sumber acara yang dihadiri sekitar 50 perempuan dan kurang dari 10 laki-laki dengan tema ”Discover Your Opportunities in the Multi-Polar World”.

Seperti tampak pada paruh pertama acara, di luar pencapaian kemampuan profesional, perempuan masih menghadapi soal-soal ”domestik”. Meskipun demikian, soal-soal domestik itu tidak menghalangi perempuan mengejar karier. Persoalannya, bagaimana menyeimbangkan antara karier dan rumah.

”Tentu saja ada rasa bersalah, bohong kalau saya bilang tidak,” jawab Neneng, ibu satu putri berusia 13 tahun. Untuk menjaga keseimbangan antara karier dan rumah, Neneng selalu berdiskusi dengan suami dan anak- anaknya saat ada pekerjaan berat atau proposal yang penyelesaiannya tidak bisa ditunda. ”Kalau tidak dapat dukungan dari mereka, saya tidak bisa ada di sini. Misalnya, mereka marah-marah terus, saya tidak dapat bekerja dengan tenang.”

Keseimbangan

Banyak perempuan akhirnya menemukan jalan untuk menyeimbangkan kehidupan keluarga dengan kariernya. Sylvia Sumarlin yang mengaku cukup sulit mendapatkan anak, membawa dua putrinya ke kantor, bahkan sejak bayi. Ini karena Sylvia memiliki usaha dan kantor sendiri.

Dia juga menyiapkan makan pagi anak-anaknya yang berumur 4 tahun dan 6 tahun, dan makan bersama satu keluarga pada pukul 18.00. ”Saya membacakan cerita sebelum mereka tidur, lalu kerja lagi setelah mereka tidur. Saya biasa tidur pukul 02.00 dan bangun pukul 05.00,” kata Sylvia. ”Saya mengurus anak-anak bersama suami, dia menunggui anak-anak kalau saya harus pergi.”

”Sejak awal saya tahu tidak akan dapat meraih semuanya (karier, keluarga, dan waktu untuk diri sendiri). Ada yang harus saya korbankan, tetapi saya tidak merasa terkorbankan. Ketika saya sedang bepergian, di atas pesawat saat sendiri, saya menikmati kesendirian itu. Kalau di rumah tidak ada kesempatan nonton serial CSI kesenangan saya karena suami saya senang nonton bola, di pesawat saya pakai kesempatan itu untuk lihat seri kesayangan saya itu,” kata Neneng.

Neneng dan Sylvia hanya dua contoh perempuan yang ingin mengaktualisasi diri di dunia kerja tanpa kehilangan kehangatan keluarga. Pendidikan tinggi yang mereka raih—keduanya menyelesaikan S-2—membuat aspirasi mereka pada dunia kerja juga tinggi.

Pada kebanyakan perempuan lain, bekerja di luar rumah adalah keharusan karena kebutuhan ekonomi keluarga. Tidak tersedianya banyak pilihan pekerjaan juga memaksa perempuan tidak leluasa memilih pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan mengurus keluarga.

Tarik-ulur antara bekerja dan karier dengan rumah bukan terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara maju. Joyce P Jacobsen dalam The Economics of Gender (1997) menyebut, banyak penelitian memperlihatkan perempuan (bekerja) tetap memiliki kecenderungan mengurus anak dan rumah tangga. Kecenderungan ini pula yang membuat perempuan mencurahkan lebih banyak waktu dan tenaga dibandingkan dengan laki-laki, walaupun kedua pa- sangan sepakat untuk sama-sama membagi kerja di dalam rumah.

Dunia multikutub

Di tengah-tengah perubahan ekonomi global, yaitu dengan munculnya kutub-kutub pertumbuhan baru ekonomi di China, India, dan Brasilia, tantangan bekerja pun berubah. Seperti diperlihatkan oleh survei online Accenture One Step Ahead of 2011: A New Horizon for Working Women dalam menyambut Hari Perempuan Internasional 8 Maret lalu, perempuan mengatakan siap menghadapi tantangan baru dengan hadirnya dunia multikutub tersebut.

Survei dilakukan pada 4.100 profesional bisnis dari perusahaan berukuran sedang hingga besar (48 persen perempuan dan sisanya laki-laki), usia dari 26 tahun hingga di atas 46 tahun, dan dari yang posisinya di bawah manajer hingga manajer senior. Sementara perempuan dari 17 negara dari lima benua—dari Asia diambil dari India dan China—yang disurvei merasa siap dalam penguasaan teknologi, inklusi dan keberagaman, serta tanggung jawab sosial untuk berhasil pada masa depan, mereka justru merasa kurang siap dalam membangun jejaring kerja serta agility, yaitu kesediaan mengambil tambahan tanggung jawab dan kompleksitas, bekerja melampaui zona nyaman, peran yang luwes, dan kesediaan dipindah ke berbagai negara, skor yang diberikan laki-laki jauh lebih tinggi daripada perempuan.

Leave a Reply