Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 472

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 487

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 494

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-settings.php on line 530

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/cache.php on line 103

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/slametry/public_html/kliping/wp-includes/theme.php on line 623
slametriyadi.com » Blog Archive » Gerakan Perempuan Kurang Solid

Gerakan Perempuan Kurang Solid

Senin, 10 Maret 2008 | 13:01 WIB
YOGYAKARTA, KOMPAS - Suara perempuan dalam memperoleh hak-haknya masih lemah. Ini disebabkan kurang solidnya pergerakan perempuan, baik terhadap sesama lembaga swadaya masyarakat atau dengan pemerintah. Karena itu, selain harus bersatu, perempuan dituntut dapat memanfaatkan ranah politik guna menyuarakan haknya.

Demikian kesimpulan yang mengemuka dalam diskusi bertajuk “Pergerakan Perempuan, ke Mana Arahmu?” yang diadakan oleh organisasi Rifka Annisa Yogyakarta, Sabtu (8/3).

“Sinergi antar-organisasi perempuan selama ini masih kurang. Di Indonesia jaringan kelembagaan yang kuat hanyalah yang bersifat hierarkis, misalnya Muhammadiyah. Organisasi lain sulit untuk bersatu, masing-masing membawa kepentingannya sendiri,” kata aktivis perempuan yang tergabung dalam Deputi Program Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Sri Kusyuniati.

Ini pula yang menjadi pemikiran pengajar Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Arie Sujito. Walaupun memiliki visi yang sama, memperjuangkan hak-hak perempuan, jika tidak ada komunikasi, lingkup kerja pun menjadi terbatas. “Sehingga kuncinya hanya bagaimana membangun masyarakat yang komunikatif, termasuk pada pihak pemerintah,” kata Arie.

Sri Kusyuniati menambahkan, lembaga swadaya masyarakat (LSM) sering kali hanya melihat dari satu dimensi saja. Akibatnya tindakan yang diambil cenderung terkadang tidak rasional. Ia menyarankan, sebelum bergerak, ada baiknya memverifikasi dan menganalisis dari berbagai pihak, termasuk dari sisi pemerintah.

“Jangan sampai kebijakan yang sifatnya baik justru diprotes. Dalam beberapa hal, kita juga harus realistis,” ungkap Sri Kusyuniati yang akrab dipanggil Kus. Cenderung internal

Selama ini, Arie menjelaskan, LSM cenderung bergerak secara internal sehingga pemerintah atau pembuat kebijakan tidak mengetahui permasalahan mendasar yang dihadapi perempuan. Ia mencontohkan, persebaran buletin atau informasi hanya sebatas antar-LSM atau justru di LSM itu sendiri, bukan ke luar.

“Pergerakan perempuan jangan hanya bergerak di lintasan pinggir generasi, tetapi harus mulai naik kelas, mulai memperkuat baik dari civil society maupun political society,” tutur Arie.

Menurut Kus, pergerakan perempuan sebenarnya sudah menghasilkan capaian besar dengan adanya undang-undang mengenai kekerasan dalam rumah tangga dan RUU Pemilu mengenai 30 persen keterwakilan perempuan dalam kepengurusan pusat partai politik. “Tinggal bagaimana perempuan bisa memanfaatkan kesempatan ini saja,” ujarnya.

Selama ini kelemahan perempuan ketika berada dalam struktur justru menjadi esensialis, kembali ke fungsi biologis saja, sehingga tidak menggugat. Padahal, saat di tataran pemerintah, perempuan harus menjadi konstruktif.

Kus mengatakan tidak ada alasan untuk tidak mampu. Selain kesempatan besar dari instrumen politik, secara sosial, program Millennium Development Goals (MDG) juga mendukung pencapaian kesejahteraan perempuan, belum lagi berbagai dukungan yang datang dari sektor informal.

Lebih lanjut, jika perempuan sudah terwakilkan, bukan berarti dukungan lantas dihentikan. “Selama ini, seakan-akan kalau sudah ada rekan yang maju ke politik, LSM justru meragukan. Inilah yang menyebabkan pergerakan perempuan menjadi abu-abu dan tidak jelas arahnya,” kata Arie. (A02)

Leave a Reply