METADON BUKAN SOLUSI UTAMA
| Kurang lebih ada 1.700 pengguna heroin, sekarang aktif mengikuti terapi rumatan metadon di sejumlah rumah sakit. Mereka rutin setiap hari minum metadon untuk melepas ketergantungan dari narkotika. Lalu, apakah metadon yang digunakan dalam terapi ini? Metadon sendiri adalah opiat atau bahan yang terkandung dalam opium sintesis, yang termasuk golongan II narkotika. Metadon diproduksi dalam bentuk cairan, tablet, dan bubuk. Metadon yang digunakan untuk pengobatan ini, berbentuk cairan yang diminum. Metadon merupakan pilihan terakhir, karena potensi ketergantungan yang sangat tinggi. Pemberian obat metadon harian kepada pasien ketergantungan heroin di rumah sakit atau puskesmas yang telah membuka program terapi rumatan metadon (PTRM) . Pemberian metadon diawasi langsung oleh petugas secara ketat. Sifatnya, rumatan atau mempertahankan pasien selama mungkin menjalani terapi tersebut, sampai akhirnya dosis dapat diturunkan bertahap. Hingga, akhirnya dihentikan. Dosis awal diberikan pada kisaran 15-30 mg/hari dan dinaikkan bertahap sampai 60-120 mg/hari, pada tahun pertama terapi. Selanjutnya, diturunkan lagi hingga dosis rendah 5-15 mg/hari. Cara ini, telah dilakukan di Amerika Serikat, dan menunjukkan keberhasilan. Begitu juga di Jakarta, mereka yang ikut rutin terapi rumatan metadon, sudah mulai menunjukkan hasil. Penanggung jawab Klinik Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) RSU Kota Tasikmalaya dr. Kartidjo mengatakan, syarat utama keberhasilan program ini yaitu kesiapan pasien untuk mengikuti terapi yang sifatnya jangka panjang. Sedangkan kriteria lain yaitu pertama, minimal berusia 18 tahun dan tidak menderita sakit berat. Lalu, orang itu mengalami ketergantungan heroin dan sakaw bila tidak memakai. Setelah memenuhi persyaratan tersebut, dikenakan tarif. Khusus di RSU Kota Tasikmalaya, metadon diberikan, dalam bentuk cair atau diminum dengan tarif Rp 15.000,00/gelas. Saat ini, kabarnya tercatat sudah ada beberapa orang yang sudah memanfaatkan PTRM di RSU Kota Tasikmalaya. Di tempat ini, dilengkapi ruang untuk konsultasi soal HIV-AIDS. Termasuk juga ada juga ruangan untuk pengobatan terhadap orang-orang yang mengidap HIV-AIDS. Tri Irwanda dari Media Relation Officer KPA Jabar mengatakan, yang harus diingat, metadon bukan solusi utama dari kecanduan. Metadon hanyalah obat yang ditujukan untuk menghindarkan pasien dari pemakaian heroin. Motivasi diri pasien amat berperan selama masa terapi. “Bila kepatuhan terapi terjaga, pasien dapat terhindar dari infeksi HIV-AIDS dari pengguna heroin suntik dan dapat mengendalikan hidupnya ke arah yang lebih produktif,” kata Tri Irwanda. Untuk mencapai ini, dukungan orang terdekat, seperti keluarga, sangat penting. (undang sudrajat/”pr”)*** |